You are here: Home

Kabupaten Indragiri Hilir

Setahun Pupuk Urea Langka

Sampai saat ini kalangan petani di Indragiri Hilir (Inhil) mengeluhkan kelangkaan pupuk jenis urea di pasaran. Sejak satu tahun terakhir, pupuk jenis itu tidak ada lagi dijual di toko pertanian maupun pedagang pengecer.
 
Akibatnya, pemilik perkebunan sawit di Inhil menjerit sulitnya mendapatkan pupuk jenis itu. Mereka terpaksa hanya mengandalkan pupuk KCL dan NPK yang jelas berbeda tujuannya. Selain itu, harga dua jenis pupuk tersebut juga cukup mahal. Dampaknya banyak sawit milik masyarakat, daunnya menjadi kuning akibat tidak pernah lagi dipupuk dengan urea.
 
Toko alat pertanian yang biasanya selalu menjual urea secara bebas, menyatakan tidak pernah lagi mendapatkan pasokan pupuk jenis itu. Jangan pupuk bersubsidi, pupuk urea non subsidi pun mereka tidak pernah pula mendapatkan pasokan. Itu sebabnya, tidak ada persediaan urea yang dijual kepada masyarakat.
 
Langkanya pupuk urea itu ditengarai berkaitan dengan makin kurangnya alokasi pupuk bersubsidi di daerah ini. Jika sebelumnya, warga masih mendapatkan kesempatan membeli pupuk itu. Saat ini tidak pernah lagi didapatkan. Kalangan ibu rumah tangga yang mengembangkan tanaman sayuran dan bunga juga mengeluh sulitnya mencari pupuk jenis itu.
 
Dinas Perkebunan Inhil, menyatakan untuk Inhil pada 2009 ini mendapatkan alokasi pupuk Urea bersubsidi sebanyak 2.000 ton. Pupuk ini dalam proses penyalurannya didistribusikan kepada kelompok tani yang mengembangkan perkebunan. Untuk menebusnya, mereka harus berkoordinasi dengan PPL setempat serta dengan agen penyalur pupuk bersubsidi dimaksud.
 
‘’Perlu diketahui, dalam proses pendistribusian pupuk bersubsidi itu, sepenuhnya berada pada kelompok tani dan agen penyalur pupuk dimaksud. Kita hanya mengawasi,’’ kata Kadisbun Inhil, Ir H Kuswari MP, Selasa (14/4).
 
Pada tahun-tahun sebelumnya, setiap kelompok tani yang menebus pupuk itu biasanya melebihkan pupuk yang ditebus. Semisal satu kelompok tani ingin menebus 10 ton, dalam prosesnya diberikan 15 ton. Lima ton lagi diberikan kesempatan kepada petani lain yang tidak termasuk dalam kelompok tani untuk mendapatkannya.
 
Belakangan pola yang sudah cukup bagus itu ternyata tidak diperbolehkan. Kalangan kelompok tani mengaku merasa tidak nyaman karena kerap ada oknum tertentu yang melakukan pemerasan dengan alasan mereka menyalahgunakan pupuk bersubsidi.
 
Pasca kejadian seperti itulah, kalangan pemilik perkebunan mengeluh hilangnya pupuk urea di lapangan. Sedihnya lagi, tidak terlihat ada upaya untuk mengatasi kelangkaan pupuk ini. Dalam jangka panjang ditengarai mempengaruhi tingkat produktivitas TBS Inhil maupun tanaman keras lainnya.
 
Kalangan petani kelapa lokal yang dulunya menggunakan pupuk Urea untuk menyuburkan tanamannya, terpaksa kembali pada pola zaman dulu, yakni menggunakan turusi dan garam. Walau dipandang dulu merupakan pupuk yang baik, tetapi zat ini dinilai tidaklah membuat tanaman menjadi berdaun hijau dan berbuah banyak.
 
‘’Kita pun tidak mengetahui, mengapa urea non subsidi juga tidak ada di pasaran. Kalau untuk pupuk non subsidi, mekanisme sudah jelas, disesuaikan dengan permintaan pasar,’’ tukas Kuswari.(izl)